Tuesday, February 19, 2013

Ka Lon Troen

Oleh : Faurizal Moechtar
  
“Ka lon troen - Peutroen Beu Abeeh, ka lon troen - Peutroen Beu Abeeh, ka lon troen - Peutroen Beu Abeeh, ka lonjak - Peutak Beu Jioh, ka lonjak - Peutak Beu Jioh, ka lonjak -  Peutak Beu Jioh”(Saya turun - turunkan semua, saya turun - turunkan semua, saya turun-turunkan semua, saya pergi - pergi yang jauh,  saya pergi - pergi yang jauh, saya pergi -  pergi yang jauh) begitulah mantra ritual pengobatan tipu musilihat Mugee Keubee (Toke Kerbau) ketika mengibuli korbannya.


Kejadian ini merupakan kisah nyata, dikisahkan…sekitar tahun 50-an, di Simpang Mamplam Samalanga, sebut saja di Gampong Meunasah Dayah, didatangi oleh tiga Orang Musafir yang mengaku Mugee Keubeu (Toke Kerbau) dari Nanggroe Barat.

Sore itu…Seperti biasanya, setelah melepaskan penat sehabis pulang dari sawah warga Gampong Meunasah Dayah Simpang Mamplam bergegas menuju meunasah untuk  menunaikan Shalat megrib secara berjamaah, tiba-tiba di meunasah sudah ada tiga orang tamu yang mengaku baru saja tiba dari medan, “Kami Toke Kerbau baru saja tiba dari medan, ingin pulang ke Nanggroe Barat, namun karena  hari sudah sore kami sangat berharap  Tgk. Imum mengizinkan kami istirahat disini, Insya Allah besok pagi kami akan melajutkan perjalanan kembali” Mohon Apasuh, salah seorang dari Mugee Keubeu itu kepada Tgk. Imum Hajat yang baru saja  sampai ke meunasah. Tgk. Imum Hajat mengizinkan ketiga Mugee Keubeu itu menginap di kampungnya, bahkan Tgk. Imum Hajat menjamu makan malam dirumahnya.

Setelah makan malam (Khanduri) Tgk. Imum Hajat kembali bergegas ke menasah untuk menunaikan shalat Isya, sekalian mempersiapkan tempat istirahat untuk ketiga Mugee Keubeu  itu di menasah, Tgk. Imum Hajat Sangat memuliakan tamu-tamu nyan ini.

Kemudian Tgk. Imum Hajat pamit pulang,  karena sebentar lagi bersama sejumlah tokoh masyaraat ingin menjenguk orang yang sakit di dusun seberang. “Maaf kami tidak dapat menamani teungku-teungku disi, kami pulang dulu, karena sebentar lagi kami ingin menjenguk warga kampung yang sakit, sayang…sakitnya sangat para dan sudah menahun”, Tgk. Imum Hajat menceritrakan kisah Nyak Aneh yang didera sakit sekalian pamit kepada ke tiga Mugee Keubeu itu.

Lalu diantara mugee Keubeu itu yang bernama Apasuh menyambung “Pak Imam…, kalau boleh…izinkan kami ikut untuk menjenguk orang sakit tersebut, siapa tahu kami bisa mengobatinya”, Tanpa curiga dengan senang hati Tgk. Imum Hajat  menyambut baik permintaan Tamunya tersebut.

Sesampai ke rumah Orang sakit tersebut, Ayah Nyak Aneh mempersilakan Tgk. Imum Hajat untuk membacakan ayat-ayat Allah agar Nyak Aneh yang sakit tersebut di berikan kesembuhan, doa demi doa dibacakan oleh Tgk. Imum Hajat, Nyak Aneh  sekali-kali menghentikan rintihan kesakitan, Tgk. Imum Hajat yang diaminkan oleh warga terus meminta pertolongan Allah SWT, bersamaan dengan itu malam pun terus larut, Tgk. Imum Hajat dan rombongan meminta izin untuk pulang, “Kami pamitan dulu teungku .., besok malam Insya’Allah akan kita Rajah lagi” Tgk. Imum Hajat pamitan kepada Ayah Nyak Aneh.

Sebelum pulang, Apasuh mencoba mengeluarkan jurus kibulnya “Teungku-teungku, Ummi-ummi, kami bertiga adalah Musaffir yang baru saja tiba dari medan, kami berasal dari Nanggroe Barat, Insya’Allah kami mampu mengobati Orang sakit ini, oleh karena itu izinkan kami mengobatinya”. Pinta Apasuh  Pimpinan Mugee Keubeu itu.

Dengan rasa senang hati keluraga Nyak Aneh menyambut baik keinginan Mugee Keubeu tersebut “Alhamdulillah..dengan senang hati,  dan berharap teungku-teungku dapat membantu anak kami yang sedang didera sakit menahun ini”. Sambut  Ayah Nyak Aneh dengan Ikhlas.


“Insya’Allah…kami dapat membantu menyembuhkan orang sakit ini, di kampung kami sakit seperti ini sudah biasa, Nyak Aneh  ini saket meurampet nama” Sambung Apasuh lagi. Lebih lanjut Apasuh mengatakan “Tidak cara lain..untuk mengobati sakit seperti ini, kita harus menyediakan siaree meuh (satu bambu emas) dan kita letakkan di tampong (Atap) rumah ini, tidak perlu takut, emas itu tidak akan hilang, hanya sebagai syarat, hanya itu cara mengobatinya, Insya’Allah sesudah itu Nyak Aneh akan segera sembuh, Apa bila syarat itu sanggup dicari atau pinjam sama orang lain selama beberapa hari untuk syarat pengobatan berarti kami bertiga akan menunda keberangkatan pulang ke kampung kami besok pagi, kami akan bantu mengobati Nyak Aneh tanpa harus dibayar, Insya’Allah”. Apasuh Merayu.

Mendengar permintaan syarat itu, pihak keluarga pasrah tidak mampu menyanggupi, namun karena permintaan tersebut didengar oleh pemuka masyarakat, Peutua Akop mengatakan “Kalau begitu izinkan kami bermusyawarah dulu, siapa tahu secara bersama kami dapat mengupulkan emas tersebut”, sejenak bersama keluarga dan tokoh masyarakat Gampong Meunasa Dayah yang kebetulan sudah berada di rumah tersebut bermusyawarah dan sepakat mencari emas pinjaman kepada orang-orang kaya di kampung tetangga.

Dengan bermodalkan kebersamaan dan kepercayaan, Al-hasil…Siaree Meuh (satu bambu emas) mampu dikumpulkan oleh keluarga dan masyarakat dalam beberapa hari. Kemudian emas tersebut diserahkan kepada Mugee Keubeu untuk ditempatkan di tampong (Atap) rumah Nyak Aneh yang sakit itu.

“Teungku-teungku dan Ummi-ummi  sekalian… besok hari jum’at, seluruh warga kampong diharapkan dapat berkumpul di perkarangan rumah ini untuk sama-sama mendoakan semoga Nyak Aneh dapat disembuhkan”. Ajak Mugee Keubeu kepada masyarakat Gampong Meunasah Dayah.   

Besok paginya…seluruh warga kampung sudah berkumpul di perkarangan rumah Nyak Aneh, lalu Mugee Keubeu tersebut berharap “Saudara-saudara saya…yang saya muliakan…mari kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan Nyak Aneh, ketika saya katakan ‘ka lon troen’ secara serentak ramai-ramai warga Gampong ini harus menjawab ‘Peutroen beu abeeh’ dan ketika saya berteriak ‘Ka lon jak’ warga Gampong wajib menjawab ‘peutak beujioh’”. Pinta Apasuh, sambil mengarahkan.

Setelah Mugee Keubeue memberikan pengarahan, masyarakatpun sudah memahami perannya dalam proses pengobatan tersebut, lalu tahapan ritual pengobatanpun dilakukan. Setelah membaca beberapa kali ayat-ayat Al-Quran secara bersama-sama, Apasuh Naik ke Tampong (Atap) Rumah Nyak Aneh dengan mulut komat-kamit, lalu sambil membawa turun tafsi berisi satu bambu emas ia mengatakan “ka lon troen” dengan suara keras berkali-kali sampai ke tanah “Ka lon troen…ka lon troen…ka lon troen…” dan masyarakat secara serentakpun menjawab “Peutron beu Abeh… Peutron beu Abeh… Peutron beu Abeh…”. Setelah sampai ke tanah lalu mugee Keubeu mengatakan “Ka lon jak….ka lon jak… ka lon jak” masyarakat secara bersama-sama menjawab “Peutak beujioh…Peutak beujioh… Peutak beujioh” hingga suara pekikan ka lonjak tidak terdengar lagi.

Sampai menjelang Shalat jum’at, masyarakat Meunasah Dayah masih bertahan di rumah Nyak Aneh…berharap-harap Nyak Aneh segera sembuh, namun tidak kelihatan tanda-tanda kesembuh…bahkan Nyak Aneh terus merintih kesakit “Aduh…aduh…ya Allah…ya..Allah, ampuni dausa saya…sembukan saya…aduh…heu…heu……” Rintihan Nyak Aneh sambil menyebut-nyebut nama Allah.

Sementara itu klompotan Dukun Palsu yang mengaku Mugee Keubeu bersama satu bambu emas hilang ditelan semak belukar, lalu warga berupaya mencarinya sampai memasuki waktu jumat, pencarianpun  sia-sia, Mugee Keubeu tidak ditemukan.

Sungguh sangat malang Nasib Nyak Aneh dan keluarganya, tubuh masih didera sakit, beban utangpun bertambah, untuk membantu beban hutang Nyak Aneh Masyarakat Gampong Meunasah Dayah terpaksa bergotongroyong ‘Meuripee’ untuk membayar utang pimjamam emas kepada orang-orang kaya di kampung tetangga.

Bersamaan dengan lunasnya hutang emas, Nyak Aneh menghadap Ilahi, semoga Nyak Aneh ditempatkan pada tempat yang mulia disisi Allah SWT. Amin. 

Semoga cerita Pendek ini menjadi iktibar kepada kita untuk tidak mudah mempercayai orang asing yang menawarkan jasa. Sementara Tgk. Imum Hajat yang selama ini banyak membantu mendoakan untuk kesembuhan warga kita tinggalkan bergitu saja.

Ingat…Mugee Keubeu tetap Mugee keubeu, Penipu tetap penipu walau sekali waktu menjelama sebagai Sang Penyelamat, Penjelmaan itu bukan aslinya, karena sesungguhnya keaslian itu adalah apa yang tampak sesungguhnya.

No comments:

Post a Comment