Monday, January 7, 2013

‘Ide Berani Sang Pemberani’

(Oleh: Faurizal Moechtar)

Menarik rasanya menanggapi tulisan Sdr. Khairil Miswar  pada media online AtjehLINK yang berjudul  “Ide Konyol Paduka Walikota”, penilaian konyol seperti yang  dikatakan oleh Sdr. Khairil Miswar bukan tidak beralasan,  baik ditinjau dari aspek keselamatan pengendara kenderaaan roda dua maupun ditinjau dari  dari segi syariat. Bahkah menurut Sdr. Khairil Miswar, pernyataan Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya “Duduk kangkang melanggar adat istiadat Aceh dan Syari’at Islam adalah anggapan yang berlebihan dan bertentangan dengan fakta sejarah”.

Sama seperti Sdr. Khairil Miswar, sebelummnya saya juga memberikan penilaian koyol terhadap ‘Ide Larangan Duduk Ngangkang’ bagi wanita yang dibonceng di belakang kendearaan roda dua. Namun setelah saya kaji lebih mendalam, saya memberikan penilaian terbalik dengan Sdr. Khairil Miswar, bahwa “Ide Paduka Walikota Lhokseumawe adalah cita-cita mulia dan berani”, dan hanya “pemimpin pemberani” yang berani mengeluarkan ide-ide yang sepintas terkesan konyol tersebut.

Saya kira, jauh sebelum mengeluarkan ide mulia ini, sang Walikota juga sudah berfikir, bahwa akan ada banyak tantangan yang dihadapi, kritikan dan bahkan cemoohan, namun sebagai ‘pengembala’ beliau tetap akan berupaya berbuat semampunya untuk dapat dipertanggungjawabkan olehnya di hari ‘kemudian’.

Siapapun juga tahu bahwa ide larangan Ngangkang di belakang kendaraan itu adalah ide yang terkesan konyol, apalagi seorang Suaidi Yahya yang notabene sebelum jadi Walikota adalah Wakil Walikota, diyakini sebelum ide ini diluncurkan ke publik oleh Pak Wali, tentu sudah melalui tahapan-tahapan sesuai dengan standar pemerintahan dan telah melakukan kajian-kajian mendalam apa untung dan ruginya.

Untung
Untungnya, Pak wali akan dapat mempertanggungjawabkan terhadap apa yang dipimpinnya di hari pertanggungjawaban yang telah Allah janjikan akan tiba. Setidaknya pak wali telah mencoba berbuat semampunya sehinga Anak-anak muda noh-muhrim yang selama ini kerap terlihat berpelukan di atas sepeda motor tidak ada lagi.

Duduk ngangkang diatas sepeda motor memberi peluang besar kepada Anak-anak muda non-muhrim berpelukan bahkan sering terlihat berciuman. Bukan dalam artian duduk menyamping tidak ada peluang untuk berzina, duduk menyamping peluangnyan lebih kecil ketimbang duduk mengangkang di belakang pengendara. Sampai hari ini Saya belum pernah melihat seorang perempuan yang dibonceng duduk menyamping berciuman dengan laki-laki yang membawa kendaraan, dan sebaliknya hampir setiap hari saya melihat remaja perempuan yang duduk ngangkang memeluk remaja lelaki yang  memboncengnya di atas sepeda motor.

Memang tidak ada aturan dalam mengatakan duduk ngangkang itu adalah milik laki-laki, baik dalam tatanan adat secara tertulis maupun agama, namun demikian seingat saya jangankan duduk ngangkang di atas sepeda motor, seoarang perempuan menjadi sopir mobilpun dianggap tabu di Aceh. Kalau tidak percaya coba lakukan penelitian…!

Saya yakin bahwa larangan tersebut pada dasarnya ditujukan kepada Laki-laki yang berboncengan dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Namun karena sulit melakukan verifikasi maka aturan itu harus dibuat secara umum.

Rugi
Diyakini, Pak Suaidi Yahya sadar bahwa ide mulianya itu akan membawa beliau pada posisi yang tidak menguntungkan sebagai politisi, beliau akan dikritisi, beliau akan dituduh tidak memilki ide, bahkan beliau akan dicemo’oh tidak tanggap keadaan. Namun Pak Suaidi tetap mengeluarkan ide-nya yang terkesan konyol tersebut, karena Pak Suaidi menyadari betul bahwa apa yang dipimpinnya suatu saat harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pertanyaannya adalah kenapa hanya itu, ‘melarang wanita duduk ngangkang di atas sepeda motor yang dikendarai oleh lelaki non muhrim’ bukankah masih banyak hal-hal lain yang menyentuh/merugikan hak hidup orang banyak  juga melanggar syariat Islam, bertentangan dengan adat dan budaya Aceh, seperti korupsi misalnya, pajak nanggroe yang tidak jelas alokasinya kemana dan lain-lain.

Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, diyakini Pak Suaidi agak sedikit kelimpungan, namun 
demikian yang jelas Pak Suadi dengan kekuasaannya telah berupaya menegakkan kebenaran yang dianggap olehnya benar.

Selamat berjuang Paduka Walikota…!
(Penulis adalah seorang pemerhati budaya)

Sumber : http://atjehlink.com

No comments:

Post a Comment